Kamis, 27 April 2017

Gerakan 1821 Stop pegang Gadget dan Sejenisnya

Mohon dishare

Yth : Para Orang Tua di Seluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia

Dan
Dinas Pendidikan :

Memperhatikan Hiruk Pikuknya per HP an....saya usul ( mohon responnya ) dilakukan :

"GERAKAN 1821"

Para Ayah dan Bunda yang baik hati, khususnya yg mempunyai anak SMA ke bawah (SMP, SD, TK)..., betapa  dasyatnya pengaruh HP  terhadap perkembangan anak-anak kita.
Anak-anak semakin egois, susah dikendalikan dan terkena dampak negatif lainnya.
Untuk itu mari kita Lawan dengan "Gerakan 1821".

Apa itu "Gerakan 1821"?

Gerakan 1821 adalah himbauan kepada para orangtua untuk melakukan puasa gadget/HP,
hanya 3 jam  saja, yaitu mulai jam 18.00 s/d 21.00.
Simpan dulu HP-mu Ayah, Bunda, simpan dulu BB, Tab dan laptop nya.
Temanilah anak-anak kita,
hanya 3 jam saja.
Bersama mereka,
dengan sepenuh hati..sepenuh jiwa & raga kita.

Apa yang harus dilakukan selama 3 jam?

3B: Bermain, Belajar, Bicara (Ngobrol).

Iya, cuma 3 jam dan 3B saja.
Bermain apa saja,
boleh mainan tradisional, bermain petak umpet, tebak-tebakan, pokoknya apa saja.

Bisa juga menemani mereka belajar.
Belajar agama dan apa saja yg positif.
Bisa mengerjakan PR, belajar ilmu baru, berbagi pengalaman pengetahuan dan yang lainnya.

Juga bisa diisi dengan banyak ngobrol.
Bicara, bicara, dan bicara.
Ajak anak-anak  bicara.
Topiknya bisa apa saja.
Lebih utama bicara tentang mereka, pengalaman mereka, keinginan mereka, pokoknya apa saja.

Hanya 3B : bermain, belajar, bicara, dan tidak semuanya harus dilakukan pada saat yang sama, bisa dijadwal dan dibuat se-enjoy mungkin.
Bisa  dikombinasikan.
Pilih aktivitas yang nyaman dilakukan bersama.

Mari Ayah ... ayo Bunda.
Puasa gadget/HP dan TV..
Hanya 3 jam saja.
Jam 18 s/d 21 saja!

Ingat ya...1821...!
Mari kita coba...!

Semoga Bermanfaat....!

*(Sharing gerakan ini yang digagas oleh  program PSPA nya Program Sekolah  Pengasuhan Anak.)*bagus buat yg punya anak dibawah 17thn⁠⁠⁠⁠

Hari Jum'at, 27 April 2017 : Membantu Bu Juarno

Hari ini Alhamdulillah semua pekerjaanku untuk membantu yayasan yakni membuat laporan keuangan dan laporan pajak sudah selesai.

Sebelum subuh aku bangun dan langsung mandi, lalu ke Mushola Syafurrohiim untuk menjalankan ibadah sholat Subuh berjamaah, setelah itu jam 5.30 aku berangkat ke Cilandak untuk menyerahkan laporan tersebut ke Ibu Juarno.

Aku merasakan ada hawa positif ketika kita bangun pagi dan aktifitas, rasanya ada kesegaran tersendiri walaupun perut ini lapar belum sarapan, entah rasa yang sangat enak dan nyaman. Ohh sungguh ini adalah sebuah nikmat dari Allah SWT, yang tidak terhitung banyaknya.

Kembali lagi ke Bu Juarno, saat aku datang beliau sudah siap dan sudah aktif. beliau menerima saya dengan suka cita, dan saya langsung arahkan beliau untuk tanda tangan. saat beliau memberikan sesuatu kepada saya saya menolak, dan langsung mengatakan enggak bu ini untuk ibu saja dan untuk foto copy, saya enggak tega karena memang yayasan saat ini sedang kekurangan dana, ya Allah saya melihatnya sangat sedih, dan terharu, walau beliau sudah lansia tapi tetap semangat dan sangat bijak, masih mau untuk menghargai kerja orang lain. tapi saya bilang cukup bu saya ikhlas, batin saya.

Yayasan Kesuma Jaya Mandiri selama 5 tahun di kelola oleh ibu Juarno dan Murni, beliaulah ujung tombaknya, sekali lagi, walau sudah lansia saya sangat terharu dengan semangat mereka. mereka kadang mencari dana ke donatur berdua, ke Dinas Sosial, ke kementerian, bahkan ke kantor pajak, untuk lapor pajak, sungguh kita akan merasa malu, jika di usia kita yang masih muda saja masih bermalas-malasan,

saya ingat pesan mereka : hidup kita memang sekali saja, tapi bukan lantas kita hanya senang sendirian saja, selagi kita mampu, mari kita bantu orang lain. banyak contoh kasus, misal anak paket ABC angkatan pertama dan kedua, banyak diantara mereka yang ditalangin untuk membayar ujian, tapi setelah selesai ujian dan sudah keluar ijazah, anak-anak tersebut tidak membayar dan menebusnya, sungguh memalukan, dikarenakan mereka sudah bekerja, tapi mereka tdk mau menebus ijazah paket mereka. yayasan sudah meminjamkan lumayan besar untuk mereka tapi mereka tdak peka juga.

evaluasi kedepan, akhirnya yayasan bertindak tegas, jika yang belum bayar ujian tdk bisa ikut ujian. Mohon maaf para adik-adikku. ini semua demi kebaikan semua, karena yayasan juga punya anak asuh yang harus dibantu, sementara kalian yang sudah bekerja hanya menghabiskan uang untuk hp baru, jalan2, dsb. sekali2 kalian bantu dong adik kalian yang masih butuh biaya sekolah.

Sudah dulu ya, nanti disambung lagi

bagi yang mau bantu yayasan kami silakan kontak kami di 08388780913

Sabtu, 07 Januari 2017

Qiyadah

Tulisan sangat bagus unt Kader Dakwah

⭕⭕⭕

MAKNA TSIQOH YANG TEREDUKSI

Oleh: Abu Hisymah Al-Madani

1. Tsiqoh adalah salah satu rukun dari Arkanul Bai'ah yang sangat penting dalam membangun soliditas jamaah. Ia seperti semen perekat di antara batu bata bangunan jama'ah yang kokoh.

2. Dengan tsiqoh lah, ketaatan menjadi padat tak terurai. Yang mana sekuat apa pun kepemimpinan, akan menjadi lemah tanpa tsiqoh dan ketaatan. Ini seperti khutbah Abu Bakar As-Shiddiq saat didaulat menjadi Khalifah.

3. Dari sini sepertinya musuh-musuh dakwah (termasuk intelijen) menengarai, bahwa cara yang paling ampuh untuk mengobrak-abrik barisan dakwah adalah dengan memutus tali tsiqoh antara jundi dan qaadah.

4. Maka dimulailah berbagai operasi tasykik (membuat ragu) dan tasywih (memburukkan) image para qiyadah. Seperti dengan menebar vonis sepihak: "tidak kompeten dan kapabel".

6. Hasan Al-Banna menjelaskan: "Yang saya maksud dengan tsiqoh adalah  tenangnya seorang prajurit kepada pimpinannya akan kompetensi dan keikhlasannya. Ketenangan mendalam yang akan membuahkan cinta, pengakuan, penghormatan dan ketaatan."

7. Perlu diingat kembali, tsiqoh adalah rukun terakhir dari Arkanul Bai'ah. Sebelumnya ada rukun-rukun lain yang harus dipenuhi: Fahm, Ikhlas, 'Amal, Jihad, Tadhiyyah, Taat, Tsabat, Tajarrud, dan Ukhuwah.

8. Maka ketenangan hati disini adalah ketenangan hati yang paham dan ikhlas. Bukan kepuasan logika dan hawa yang tidak jelas ukurannya. Apalagi jika ternoda dengan tendensi dan proyek dunia.

9. Maka jika ketenangan itu belum juga tumbuh, ada baiknya kita muhasabah, sejauh mana karya nyata ('amal), pengorbanan (tadhiyyah) dan jihad yang telah kita lakukan. Pantaskah dibandingkan dengan para Qiyadah yang kita ragukan?

9. Maka jika kepuasan itu belum juga hadir, ada baiknya kita berkaca, sekuat apa keteguhan (tsabat) dan totalitas (tajarrud) kita dalam perjuangan. Pantaskah dipadankan dengan para Qiyadah yang (sadar atau tidak sadar) sedang kita lukai harga dirinya?

10. Perlu dipahami juga, bahwa tsiqoh memang akan membuahkan ketaatan. Namun, ketaatan tidak selalu harus menunggu hadirnya ketenangan hati dan kepuasan akal. Jangan dibolak-balik.

11. Karena kadang kala rasionalisasi keputusan tidak bisa dengan gamblang disampaikan. Mungkin karena alasan amniyah (keamanan) atau karena alasan etika (seperti kewajiban menutup aib).

11. Juga kadang kala rasionalisasi keputusan terkendala oleh jarak dan waktu. Sedangkan banyaknya agenda, membuat tak ada jeda untuk menjelaskan dengan detail setiap dinamika yang ada. Inilah mengapa rukun taat didahulukan sebelum tsiqoh.

12. Penting juga untuk dimengerti, proses untuk meraih ketenangan dan kepuasan itu, juga harus dibingkai dengan Rukun Ukhuwah. Disana ada aturan main, ada adab tandzimi dan adab islami yang harus dipenuhi.

13. Bukan dengan menggalang mosi tidak percaya di publik atau mengumbar aurat dan jeroan yang harusnya ditutupi. Disini komitmen manhaji kita akan teruji.

14. Sekali lagi, tsiqoh adalah ketenangan hati yang faham dan ikhlas. Bukan kepuasan hawa yang tidak ada ujungnya.

15. Jangan sampai kita menjadi seperti Bani Israil yang tak pernah merasa tenang dan puas dengan argumentasi dan mukjizat Nabi Musa. Bahkan mereka menuntut bisa melihat Alloh dengan kasat mata dulu baru percaya. Wal 'iyadzu billah...

16. Saat lautan menghadang di hadapan dan di belakang ada tentara Fir'aun yang berjumlah ribuan, tetap saja ragu dengan keputusan Nabi Musa untuk menyeberang lautan.

17. Padahal, kompetensi dan ketulusan Nabi Musa tak teragukan. Telah diturunkan bagi mereka makanan dari surga, bernama Manna dan Salwa, tapi tetap belum subur tsiqoh-nya.

18. Seandainya memang benar para Qiyadah kita lemah seperti yang dikatakan, maka belajarlah dari pemilihan khalifah antara Abu Bakar atau Umar. Sebuah dilema antara keutamaan dan kekuatan.

19. Dr. Muhammad Al-Khathib dalam Nazharat fi Risalatit Ta'alim, pada point tsiqoh, menukil dialog keduanya. Umar berkata kepada Abu Bakar: "Julurkan tanganmu, aku akan berbaiat kepadamu". Abu Bakar menjawab, "Justru aku yang ingin berbait kepadamu!".

20. Lalu Umar berkata: "Engkau yang lebih afdhol dariku!". Abu Bakar pun menjawab: "Engkau lebih kuat dariku!". Hingga dialog itu ditutup dengan kata-kata Umar: "Kekuatanku untukmu bersama keutamaanmu!".

21. Itu jika para Qiyadah benar-benar lemah dan tidak cakap. Lalu bagaimana jika faktanya mereka jauh lebih unggul dalam kemampuan, pengorbanan dan keilmuan?!

22. The last but not least, janganlah menjadi seperti orang-orang yang mengeluhkan berbagai kemunduran dan banyaknya perselisihan di masa Khilafah 'Ali bin Abi Thalib dan membandingkan dengan masa-masa Khalifah sebelumnya.

23. Soalnya kalau dijawab dengan statement 'Ali: "Itu semua karena yang dipimpin di zaman mereka adalah orang-orang sepertiku, dan yang aku pimpin sekarang adalah orang-orang sepertimu",

Kota Nabi, 5 Rabiul Akhir 1438 H.